Nani Maryani Berbagi Cerita Perjalanan SMKN 1 Bogor Saat Mengikuti Lomba LKS di Lombok

KOTA BOGOR, LENSAONLINE.COM – SMK Negeri 1 Bogor, merupakan salah satu sekolah menengah kejuruan yang menjadi kebanggaan masyarakat dan juga Pemerintah Kota Bogor. Sekolah yang berlokasi di Jalan Helang, Kelurahan/Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor itu, memiliki segudang prestasi, mulai tingkat kota, provinsi hingga tingkat nasional.

Keberhasilan itu pun tak luput dari peran kepala sekolah, guru dan juga para orang tua siswa, sehingga sekolahnya mampu menciptakan siswa dan siswi berprestasi.

Bahkan, beberapa waktu lalu sekolah yang di pimpinĀ Drs. Chairil Anwar, MM.Pd itu telah memberangkatkan siswa siswinya ke Kota Mataram dan Lombok Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mengikuti Lomba Kompetisi Siswa (LKS) tingkat Nasional selama enam hari (tanggal 6 sampai 12 Mei 2018).

Wakil Kepala Sekolah di Bidang Humas SMKN 1 Bogor, Nani Maryani SPd menceritakan perjalanan anak didiknya ketika berangkat ke Kota Mataram dan Lombok. Ia mengatakan, sebelum berangkat ke NTB terlebih dulu dikumpulkan di Bandung guna persiapan untuk pelepasan dari Propinsi Jawa Barat. Selama di Bandung, anak didiknya diberi pembekalan selama satu malam pada 6 Mei 2018.

Kemudian, satu hari setelah diberi pembekalan dilanjutkan ke Bandara Husein Sastranegara yang merupakan tempat pemberangkatan menuju Lombok Internasional Airport. Setibanya di Kota Mataram, dia dan rombongan bergegas ke Hotel Meridien Lombok untuk registrasi dan di sana dirinya di sambut hangat ketua panitia LKS dari NTB. Seluruh rombongan didata berdasarkan database yang sudah diawasi berdasarkan data online secara komputeris.

“Data tersebut harus benar-benar cocok dan sesuai data, ditambah juga cross check dan registrasi karena semua peserta setelah diregistrasi dengan kelengkapan identitas LKS sebagai bukti dan tidak boleh dilepas,” ucapnya.

Setelah itu, lanjut Nani, lokasi yang digunakan untuk lomba LKS di pusatkan di Lombok City Centre (LCC) yang lokasinya tak jauh dengan pelabuhan Senggigi. Untuk menuju ke lokasi, peserta menggunakan Bus dan memerlukan waktu sekitar 30 hingga 40 menit. Selama perjalanan hingga masuk hotel dan tempat lomba semua tanda pengenal tidak boleh di lepas.

Lomba LKS tersebut berlangsung tiga hari. Selama lomba diisi dengan teori dan praktek mata uji dengan judul ‘Touris Industri’. Karena bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seluruh peserta dan pendampingan dari perwakilan 34 provinsi mengikuti upacara yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan yang sekaligus meresmikan pembukaan LKS se-Indonesia.

Untuk jenis lomba ada 40-50 mata lomba, sedangkan yang lainnya tersebar di beberapa mata lomba. Jurusan touris industri Kota Bogor diwakili oleh David Noah Rizal dalam 3 mata lomba. Acara pun begitu padat mulai pembukaan, kunjungan ke sekolah, ada teknikal meeting dan osov (one school one provinsi), dilanjut tour planning (perencanaan kegiatan pariwisata) mengarah kepada wisata yang akan di jual ke konsumen. Waktu itu, tim dari Kota Bogor membuat video berjudul Indonesian Wonderfull dan Promosion of Touris Object. Dalam video tersebut, anak didiknya menampilkan visual ikon kota Bogor yaitu Kebun Raya Bogor (KRB) dan Kampung Budaya SBJ, dan semua yang dilombakan khususnya bidang perhotelan itu harus fasih berbahasa Inggris.

Memasuki hari kedua, David menceritakan turis industri asal wilayah Jawa Barat dengan membawa angklung gubrak. Di hari itu juga diisi mata lomba tentang pemandu wisata dari mulai penjemputan di bandara, misal bandara Soekarno Hatta hingga ke Kota Bogor dilaksanakan dengan informasi secara umum dan benar.

Namun, dari keseluruhan peserta yang ikut lomba LKS sedikit terganggu karena kendaraan untuk tour planning disajikan berbentuk manual, sedangkan para peserta sendiri termasuk David sudah terbiasa secara komputeris. Jadi, ini cukup menghambat penilaian juri dan terkesan kalang kabut karena sebelumnya setiap tahun lomba ini menggunakan fasilitas komputer sedangkan David sendiri tidak terlalu menguasai secara dadakan mengenai program manual atau tulis menulis.

Terjadinya kesalahpahaman di tour planning ini para peserta belum mendapatkan informasi secara benar, kalau yang ikut lomba dari beberapa provinsi ternyata belum menguasai komputer secara baik. “Akhirnya kami yang biasa menggunakan fasilitas komputer memaklumi dengan kejadian ini dan kita harus berjiwa besar karena semuanya dalam pembelajaran,” ujarnya.

Walaupun pada lomba ini tidak mendapatkan target hasil yang diharapkan, dirinya masih berbangga karena dari hasil guide dan ticketing mendapatkan hasil tinggi berdasarkan hasil dari keseluruhan 9 dewan juri. “Secara pribadi, saya cukup bangga karena yang paling bisa mewakili hotel dan pariwisata hanya ada 3 yakni Jabar, DKI Jakarta dan Jateng. Kami pun tetap memberi motivasi kepada anak-anak karena tujuan kami adalah ke kancah Internasional,” ujar Nani yang juga Pembimbing Lomba LKS untuk SMKN 1 Bogor.

Laporan: Mayang / Iwan
Editor: Herry Priatna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *